Kerukunan Umat

Profil Singkat Kampung Islam Candikuning

Terbentuknya Kampung Islam Candikning tidak terlepas dari sejak dirintisnya pendirian Desa Candikuning , dimana saat perintisannya di awali dengan pembabatan hutan yang dilakukan oleh 4 orang (KK) beragama Hindu dan 3 orang (KK) beragama Islam. Kegiatan ini diperkirakan terjadi pada tahun 1830 M.

Perintisan Desa Candikuning melalui 3 tahap:

Tahap I (pertama) pada tahun 1830 M yaitu ketika memulai pembabatan hutan.
Tahap II (kedua) yaitu ketika terjadi Gunung Agung meletus pada tahun 1963
Tahap III (ketiga) saat Desa Candikuning mulai berkembang menjadi daerah tujuan wisata pada tahun 1975. Dimana pada masa ini umat Hindu dan umat Islam telah dapat membentuk perkampungan kecil dan mendirikan tempat ibadah di areal tanah yang sama/ berdampingan/ satu tempat.

Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama

Umat Islam di Desa Candikuning Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan, dalam hal menjalankan kehidupan di kawasan wisata Bedugul Bali, selalu bekerjasama, bersatu, bergotong royong, saling tolong menolong, hormat menghormati, berbaur dari dulu sampai sekarang.
Umat Islam bisa menyesuaikan hidup bertoleransi dengan masyarakat yang mayoritas beragama Hindu, ternyata terus dapat berkembang, menyebar kemana-mana dan umatnya memiliki rasa toleransi yang sangat tingi khususnya Islam dan hindu, sehingga umat Islam dapat menjalankan kegiatan keagamaanya dengan baik dan istiqomah serta memiliki akhlaul karimah di tengah-tengah masyarakat.
Bukti kuat kerukunan umat beragama dan tolerasi dan mejadi keunikan tersendiri di desa Candikuning antara umat Islam dan Umat Hindu, yakni berdampingannya kuburan (Islam) dan Setre/seme (Hindu), selain berdampingannya tempat ibadah dan masih mewarisi tradisi ngejot “shilaturrohim” antara umat Islam dan umat Hindu di Candikuning.

Scroll to Top